“Jangkrik” dongeng tanpa arah

Jangkrik, begitulah masyarakat hutan memanggilnya, walaupun dia tidak merasa sebagai seorang guru tapi karena dia berada di lingkungan sekolah rimba dan sehari-hari melakukan aktifitas disana maka masyarakat rimba menyebutnya begitu. Padahal dalam hati si jangkrik dia kesana hanya mencari kesibukan disela waktunya untuk mondar-mandir kesana-kemari sampai pohon dan rumput-rumput yang dilaluinya pun bingung terheran-heran. Dia hanya ingin menjadi sahabat bagi para siswa sekolah rimba tanpa sebuah kasta ataupun gelar yang menempel erat dipundak bagai sebuah dinasti yang terlalu mengkotak-kotakkan dan terlalu melebih-lebihkan
Suatu ketika, dihari yang panas dan disela-sela lompatannya yang tidak jelas, jangkrik bermaksud untuk mampir dan duduk sebentar ditempat kawan lamanya yaitu pohon beringin yang rindang sambil mencari inspirasi. Perlahan-lahan si jangkrik mendekati pohon tersebut dan kemudian dia berkata: “hai beringin, numpang leyeh-leyeh ya…” kemudian beringin yang kekar dan perkasa pun menjawabnya: “oh… silahkan bersantailah sejenak dibawah rindangnya dedaunanku.ha ha haa!!!”

Beringin: “dari tadi aku melihat kamu mondar-mandir kesana-kemari, sebenarnya apa yang engkau cari?”
Jangkrik: “rutinitas biasa dan aku suka melakukan ini, memang kenapa?” Tanya jangkrik heran
Beringin: “kamu itu guru.. kamu mengajarkan semua ilmu kepada anak-anak rimba, kenapa kamu tidak bersikap seperti guru-guru lain, mereka lebih tua dari kamu dan juga lebih hebat dari kamu, bahkan banyak dari mereka yang sudah mendapatkan gelar mahaguru. Ikutilah langkah mereka dan kamu juga nanti akan seperti mereka”
Jangkrik: “he hee…” (jangkrik tersenyum)
Beringin: “lho kok kamu malah tersenyum! Lihat dong si mahaguru bebek, mahaguru badak, mahaguru merak dan masih banyak lagi mahaguru-mahaguru lainnya. Mereka punya kemampuan dan kecakapan mengajar yang bagus, setiap pagi berangkat dan pulang disiang hari dengan pakaian yang bagus-bagus sampai-sampai dengan pakaiannya yang bagus tersebut tidak ada lalat yang berani menghinggapinya karena pasti akan terpeleset. Semua itu akan menjadi contoh bagi anak-anak rimba agar kelak ketika mereka dewasa mereka dapat meniru dan mempraktekkannya. Sedangkan kamu, apa yang akan mereka tiru?”
Jangkrik: “trus saya harus gimana dong! haruskan saya mencontoh mereka???”
Beringin: “tentu saja..! kemarin saya dengar katanya para mahaguru bisa menjadi semakin hebat seperti itu karena mereka telah memperdalam ilmu kemahaguruannya dipadepokan alas sebrang. Tidak ada salahnya kamu coba kesana dan katanya juga disana kamu akan diajarkan sampai benar-benar mendapatkan gelar mahaguru…”
Jangkrik: “baiklah..baiklah..baiklah.., akan saya coba, tapi apa iya ya….(jangkrik penasaran)
Apa hebatnya sich, saya kemarin tanya-tanya sama para mahaguru tidak ada yang ngasih jawaban jelas, semua cuma bilang bagus, asik, hebat. Mana kerennya dengan jawaban seperti itu” (berkata jangkrik dalam hati)
***
31.536.000 detik kemudian
Dalam kesehariannya seperti tidak terjadi apa-apa, dengan gaya dan tingkah polahnya, dengan deriknya seperti yang telah lalu dan kian berlalu. Semakin lama jangkrik menapaki hari, semakin dia bingung dengan keadaan yang terjadi dilingkungan tempai dia beraktifitas, sekolah rimba, untuk mondar-mandir kesana dan kemari. Setiap satwa yang ia temui memberi komentar yang beragam, mulai dari keluh, kesah, sampai kesan. Sampai-sampai saking bingungnya si jangkrik, dia hanya bisa tertawa geli dalam hati dengan komentar masyarakat satwa yang sangat beragam.
Masih teringat jelas dalam benak jangkrik disuatu sore menjelang gelap ketika dia lompat-lompat dipasar, bertemu orang tua ayam dan mengeluh tentang si anak ayam yang menangis merengek-rengek takut dimarahi mahaguru ayam karena harus mencarikan gambar-gambar ikan karena si anak ayam mendapat tugas dari sang mahaguru ayam, katanya gambar ikan akan ditempelkan didinding kelas ayam. Bla bla bla …..
Sambil loncat-loncat santai jangkrik melihat kelas-kelas yang kini sudah beraneka ragam, yang tadinya kelas ulat cuma di pucuk daun dan ga mau turun walaupun tunas daun sudah dipetik manusia, kini kelas ulat lebih mau berkreasi, sampai suatu ketika ada siswa ulat yang mengeluh, “mahaguru kaki saya sakit karena harus naik-turun terus”. Dengan ‘bijaksana’ mahaguru ulat berkata “anak-anak mari kita keatas lagi, seperti dulu lagi saja”. Sorak-sorai siswa ulat menyambut kebijaksanaan mahaguru ulat
Si jangkrik senyum lalu lompa-lompat ringan menuju kelas badak. Sesampai didepan kelas badak dia bingung dan bertanya dalam hati “lha mahaguru badak dimana kok ga kliatan culanya. Dialihkan pandangan kesekitar lingkungan kelas badak, waww…! samar-samar tak percaya ternyata mahaguru badak sedang berada dikubangan bersama mahaguru kerbau. Dengan sedikit menggerutu dan berlalu dengan lompatannya jangkrik berkata lirih “manstab jaya pokoe”
Dalam perjalanan menuju kelas bebek, jangkrik dikagetkan dengan suara bel istirahat. Teettttt……Dengan hati sedikit kesal, akhirnya jangkrik meloncat asal-asalan, sampai-sampai hampir menabrak siswa bebek yang ternyata juga sedang kesal kepada mahaguru bebek. “hai siswa bebek! Kenapa kamu begitu lemas, apa kamu lapar dan tidak punya uang untuk jajan?” tanya jangkrik sedikit menggoda. Dengan sedikit ketus siswa bebek menjawab, “siapa yang ga punya duit!!, saya capek!! masa dari pagi sampai istirahat cuma disuruh merangkum melulu sama mahaguru bebek”. Jangkrikpun berlalu sambil menggerutu “emang enak, hee”
Tak terasa lompatan-lompatan jangkrik membawanya menuju ke pohon beringin. Pohon yang sudah sekian lama tidak ia ajak ngombrol
Jangkrik: “he he hee… halo pak beringin, gimana kabarnya??” tanya jangkrik sedikit malu-malu
Beringin: “hai..! mahaguru jangkrik kemana aja kamu!! mentang-mentang sudah menjadi mahaguru, kamu tidak mau mampir lagi untuk berteduh dan bersantai sejenak dibawah rindangnya dedaunanku ini”.
Jangkrik: “mangap pak beringin bukan maksud daku untuk melupakan dikau dan jangan pula kau panggil aku mahaguru, aku lebih nyaman dipanggil jangkrik, karena inilah diriku yang sesungguhnya tanpa kasta ataupun gelar”
Beringin: “baiklah jangkrik.. saya dengar para mahaguru nanti siang akan menuju ke kahyangan untuk melihat dan memberi semangat pada dewa yang sedang menjalani penebusan dosa. Benarkah itu?? Dan juga katanya besok para mahaguru akan mengikuti konfrensi mahaguru sejagad raya lalu para siswa sekolah rimba disuruh belajar dirumah..?? Hebat ya para mahaguru..!!” Tanya beringin dengan nada bingung sedikit terkesan
Jangkrik: “ya begitulah kiranya. Emang dari mana hebatnya, masa mahaguru mo nengokin dewa aja motong jam pelajaran, mo konferensi aja menyuruh siswa belajar dirumah. Emang ga bisa po nengokin dewa tar setelah anak-anak sekolah rimba pulang, emang ga bisa po konferensi dilakukan saat hari libur..!!” Jawab jangkrik dengan ketus
Beringin: “lha kok kamu kok menentang keputusan para dewan mahaguru yang terhormat. Katanya wajib kan acara-acara tersebut!!”
Jangkrik: “ah biarin aja. Wong kewajiban saya sama Sang Pencipta aja masih sering terlupakan kok, ngapain juga saya ngikutin acara yang diwajibkan para dewan mahaguru. Mang dia mau saingan sama Sang Pencipta po?. Bikin acara wajib segala. Emang kalo saya atau salah satu anggota ga berangkat acara bakalan dibatalin po?, emang kalo saya berangkat, pasti bikin saya hebat po?”
Beringin: “ha ha haa….!!! ya sudahlah kalo kamu lebih memilih jalan yang berbeda dengan para mahaguru. Ikuti saja kata hatimu dan jadilah dirimu sendiri”

“sudah terlalu banyak para abdi rimba yang sudah jelas-jelas dibeli jiwa raganya oleh kerajaan rimba selalu mengutamakan hak dari kewajiban haruskah langkah itu diikuti?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: